SMPK Mardi Wiyata Kediri Bangkit, Dosen Universitas Brawijaya Apresiasi Pembenahan Internal

SMP Katolik Mardi Wiyata Kediri perlahan kembali menunjukkan perkembangan positif setelah sempat mengalami penurunan animo masyarakat. Kondisi tersebut dinilai tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat persoalan manajemen pada kepemimpinan sebelumnya yang dinilai kurang menjaga keberlanjutan sekolah. Hal itu disampaikan Dosen Universitas Brawijaya Doktor Hipolitus Kristoforus Kewuel saat ditemui di kediamannya di Kota Malang. Menurutnya, Kepala SMPK Mardi Wiyata Kediri, Agustinus BHK., M.Pd telah mengambil langkah strategis untuk membenahi sekolah tersebut. “Pertama, beliau sudah membenahi internal komunitas termasuk guru-guru dan siswa. Lalu atmosfer sekolah, itu menurut saya langkah luar biasa. Beliau sudah cukup berhasil dalam hal itu, meskipun dalam prosesnya mungkin ada saja pihak yang kurang melihat positifnya. Tapi hemat saya Frater Agustinus sudah cukup baik dan berani mengambil konsekuensinya,” ujar dosen yang disapa Doktor Hipo.

Ia menjelaskan, upaya memperbaiki sekolah tidak hanya menyangkut pembenahan internal, tetapi juga membangun kembali kepercayaan masyarakat sebagai faktor eksternal. “Kalau memperbaiki sekolah dalam konteks ini adalah animo masyarakat beralih ke sekolah ini berarti hal itu berurusan dengan pihak luar atau eksternal. Bagi saya untuk membenahi unsur luar itu pihak internal harus baik dulu. Saya kira Frater Agustinus sudah melakukan itu, dan beliau sekarang bekerja untuk mendapatkan kepercayaan kembali dari masyarakat tentang sekolah ini (SMPK Mardi Wiyata Kediri). Banyak hal beliau sudah melakukan terobosan,” katanya. Menurut Doktor Hipo, salah satu strategi yang diterapkan adalah pola kerja pentaheliks dengan melibatkan berbagai pihak, mulai pemerintah, alumni, industri, media hingga masyarakat. “Salah satunya dengan menerapkan pola kerja pentaheliks, pertama sekolah harus kerja sama dengan berbagai pihak termasuk pemerintah. Karena bagaimanapun pemerintah adalah pengelola pendidikan jadi kita harus baik dengan mereka, dan harus dekat dengan mereka. Selain itu mereka juga punya pendanaan yang luar biasa sehingga menurut saya kita bisa mendapat bagian dari itu sebagai partner yang positif,” ujarnya. Selain pemerintah, alumni juga dinilai menjadi kekuatan penting dalam mendukung kemajuan sekolah.

SMPK Mardi Wiyata Kediri sedang dalam tahap renovasi sekolah

“Berikutnya alumni, alumni sebagai orang yang sudah menjadi bagian dari masyarakat harus juga digarap. Mereka adalah kekuatan dari dalam, meskipun mereka saat ini berada di luar. Ini harus didesain bagaimana mengajak para alumni memberi perhatian pada sekolah ini. Frater Agustinus sudah melakukan itu dengan baik. Meski memang hasilnya masih dalam proses, tetapi beberapa hal sudah digarap,” lanjutnya. Ia juga menilai pendekatan kepada dunia industri melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) menjadi langkah yang tepat.

Kemudian industri, saya kira Frater Agustinus cukup banyak melakukan pendekatan kepada industri terutama menyangkut CSR. Saya tahu baik beliau sudah melakukan banyak pendekatan dengan mereka untuk bagaimana ikut mensupport ini. Kemudian dengan media, media ini selama ini selalu dipandang sebagai pihak oposan karena banyak orang takut dengan pemberitaan-pemberitaan dan seterusnya. Tetapi kalau media digandeng sebagai suatu pentaheliks itu sebetulnya media sangat membantu,” katanya.

Menurutnya, media memiliki peran penting sebagai penghubung seluruh unsur pentaheliks. “Saya lihat Frater Agustinus cukup konsen dengan media, menurut saya kunci terakhir dari keberhasilan ini adalah media. Karena ia mengikat semua pentaheliks tadi, mulai dari orang tua murid, pemerintah, industri, alumni, media dan masyarakat sekitar. Ia pengikat terakhir, dan ini langkah menarik. Sekarang kita bisa melihat hasilnya meski belum terlalu cemerlang, tetapi saya melihat ada tren naik animo siswa yang masuk ke sekolah itu,” beber dosen asal Pulau Lembata tersebut. Ia menegaskan bahwa model pengembangan sekolah seperti yang dilakukan SMPK Mardi Wiyata Kediri patut menjadi perhatian. “Coba jelaskan ada tidak model seperti ini di Kediri, dengan tren animo siswa yang terus naik perlu dilihat upaya dan strategi yang dibangun. Sehingga kalau Yayasan Pusat Mardi Wiyata ingin mengembangkan sekolah ini maka perlu banyak pertimbangan untuk calon pengganti Frater Agustinus harus dipersiapkan sejak dini,” tegasnya. Doktor Hipo juga menyoroti tantangan yang kini dihadapi banyak sekolah swasta akibat persaingan dengan sekolah negeri. “Terus terang hari ini saya menerima banyak keluhan dari beberapa sekolah swasta di mana-mana yang mengalami tren menurun. Karena pemerintah memperlakukan sistem yang berbanding terbalik dengan sekolah swasta. Jadi sekolah swasta harus bekerja keras, tidak bisa hanya tunggu siswa datang, itu bukan zamannya lagi. Harus berbuat sesuatu untuk meningkatkan animo sekolah,” ujarnya.

Menurutnya, strategi yang diterapkan Frater Agustinus dalam menarik siswa baru cukup menarik karena membangun sinergi dengan pemerintah. “Untuk mendatangkan siswa kali ini yang ditempuh Frater Agustinus itu sesuatu yang menarik sekali memasukkan sekolah bagian dari pemerintah. Sehingga siswa yang tidak tertampung di negeri boleh ikut ambil bagian secara ‘terstruktur’ ke sekolah beliau. Tak hanya itu secara sarana pembelajaran di SMPK Mardi Wiyata Kediri juga ditunjang oleh TV, ruang kelas AC (dalam proses pemasangan), ditambah 13 ekstrakurikuler yang tidak hanya habis dalam sekolah tetapi bagaimana dengan ekstra itu para siswa bisa berbuat sesuatu di luar dan itu berkelanjutan dalam hidup siswa,” sambungnya. Ia menambahkan, sekolah tersebut juga mulai menyiapkan keterampilan praktis bagi para siswa agar mampu beradaptasi di tengah masyarakat. “Bagaimana para siswa menjadi MC, dan itu mereka bisa menjadi MC di manapun. Ini menunjukkan ada upaya profesionalisme berkelanjutan, jadi sekolah tidak sekadar meluluskan orang tetapi menyiapkan orang untuk bagaimana hidup dengan masyarakat meski baru tingkat SMP. Selevel perguruan tinggi belum tentu sampai pada taraf itu,” pungkasnya.***